Lewati ke konten
NutriClinic
Issues

Sumber Air Bersih Alternatif : Musim Hujan

Ditulis oleh Sabela Nadhira Rakhmatika2 menit baca
Sumber Air Bersih Alternatif : Musim Hujan
Air hujan dapat dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan rumah tangga, tapi tidak bisa dikonsumsi secara langsung

Hallo Nutricires!

Saat ini,negara kita telah memasuki puncak musim hujan yang biasa terjadi pada bulan januari – februari. Pada saat musim hujan,curah hujan meningkat namun tidak sebanding dengan kesempatan penyerapan air ke dalam tanah atau water recharger. Akibatnya lebih dari 80% tertutupnya permukanan tanah seperti beton dan aspal,air hujan yang mengalir di permukaan tanah lereng dengan konsekuensi run off yang tinggi dapat menyebabkan potensi bencana tanah longsor dan terjadinya banjir di daerah bawah dan cekungan. Cukup disayangkan air hujan yang berlebih belum dapat ditanganin dengan baik, padahal air hujan merupakan sumber air yang tersedia sepanjang tahun.

Air hujan merupakan sumber air yang sangat potensial sebagai sumber air bersih bagi rumah tangga jika ditampung dan disimpan dengan baik. Di negara berkembang seperti Indonesia, penyediaan air bersih merupakan perhatian utama karena air merupakan kebutuhan dasar dalam keberlanguang kehidupan manusia. Karena itulah diupayakan memanen air hujan dengan cara menggunakan atap rumah dan permukaan tanah. Sebaiknya bahan-bahan yang digunakan untuk menampung air hujan bahan yang aman dan tidak mengandung bahaya pada kualitas air hujan.

Air hujan dapat ditampung dengan menggunakan atap bangunan atau rumah, pemanenan air hujan dengan skala rumah tangga ini disebut dengan rooftop rain water harvesting. Hal ini perlu dilakukan dikarenakan setiap rumah memiliki cadangan ketersediaan air bersih. Air hujan dapat dimanfaatkan untuk mencuci, menyiram dan berkemungkinan dijadikan sebagai air minum. Untuk layak dikonsumsi air hujan harus memenuhi standar baku mutu air layak konsumsi yang ditetapkan pada  Permenkes No.492/Menkes/Per/IV/2010.

Air hujan yang telah ditampung sebenarnya tidak dapat langsung digunakan namun perlu dilakukan pemurnian dengan di filtrasi,filtasi yang diterapkan harus mengacu pada jenis dan kadar polutan yang terkandung didalam air hujan setempat. Pemanfaatan air hujan bagi masyarakat Indonesia salah satunya yaitu sebagai air minum. Air minum merupakan salah satu sumber mineral dimana ia lebih mudah diserap oleh tubuh dibandingkan dari makanan. Pada air hujan,kandungan Ca dan Mg mendekati nol,oleh karena itu jika air hujan dikonsumsi langsung dapat menimbulkan peningkatan kemungkinan risiko osteoporosis dan penyakit degenaratif seperti penyakit jantung,diabetes hingga stroke. Pemurnian air hujan untuk layak dikonsumsi dapat dilakukan dengan menggunakan sistem penyaringan sederhana menggunakan pasir. Pada penelitian menggunakan tanah liat merah yang dicampur dengan batu kapur dan batu bata yang dihancurkan dapat meningkatkan kualitas air. 

Pada musim hujan seperti sekarang ini, diharapkan kita dapat memanfaatkan air hujan dengan sebaiknya sehingga ketersediaan air bersih dapat tercukupi.

Salam Gizi, Sehat berkualitas!

Tag:#air bersih#air hujan#Hari Air Sedunia#kelestarian air#Penyakit degeneratif

Bermanfaat? Bagikan artikel ini.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Ingin berkomentar? Berikan komentar Anda untuk artikel ini

Email Anda tidak akan ditampilkan.

Baca juga

Artikel lainnya

Pentingnya Bantuan Gizi dalam Situasi Bencana

Baru-baru ini kita melihat berita adanya bencana alam di beberapa titik di wilayah Indonesia seperti gempa bumi, banjir, tanah longsor, dan erupsi gunung berapi, hal ini tidak hanya m

Fathurrahmi Ichwan Alduaira

Seberapa sering kita harus mengganti sikat gigi?

Mengganti sikat gigi maksimal tiga bulan sekali Sumber Gambar : https://www.freepik.com/free-photo/close-up-image-man-s-hands-holding-tube-squeezing-whitening-toothpaste-brush_11103060.htm#page=1&quer

Anisa Gita Ayu Sekarini