Seriusnya Penyakit Bawaan Makanan yang Seharusnya Bisa Kita Cegah!
Hai NutriCiers!
Penyakit bawaan makanan (foodborne disease), biasanya bersifat toksik maupun infeksius. Kadang-kadang penyakit ini disebut “keracunan makanan” (food poisoning) walaupun istilah ini tidak tepat. Penyakit bawaan makanan mencakup lingkup penyakit yang etiologinya bersifat kimiawi maupun biologis, termasuk penyakit kolera dan diare, sekaligus beberapa penyakit parasit.
Kontaminasi pada makanan dan minuman dapat menyebabkan makanan dapat menjadi media bagi suatu penyakit. Penyakit inilah yang disebut dengan penyakit bawaan makanan (foodborne disease), yang merupakan masalah kesehatan utama dan dampaknya terhadap pengembangan sosial dan ekonomi global masih belum diketahui, akan tetapi menjadi yang paling banyak dan paling membebani yang pernah dijumpai di zaman modern ini.
Penyakit ini menimbulkan banyak korban dalam kehidupan manusia dan menyebabkan sejumlah besar penderitaan, khususnya di bayi, anak, lansia, wanita hamil, dan mereka yang kekebalan tubuhnya terganggu. Pada sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Nature memperkirakan 30% dari semua infeksi selama 60 tahun terakhir adalah penyakit bawaan makanan.
Miris bukan?
Pusat Pengendalian Penyakit di Amerika Serikat memperkirakan bahwa 76 juta orang per tahun dipengaruhi oleh penyakit bawaan makanan, dengan 300.000 membutuhkan perawatan rumah sakit dan 5.000 kematian. Makanan tertentu berhubungan dengan infeksi bawaan makanan dan keracunan makanan.
Contohnya termasuk susu yang tidak dipasteurisasi (Campylobacter); kerang (Noroviruses); sari apel yang tidak dipasteurisasi (Escherichia coli O157: H7), telur mentah dan setengah matang (Salmonella); ikan (keracunan ciguatera); raspberry (Cyclospora); stroberi (virus hepatitis A); dan daging siap santap (Listeria).
Bagaimana dengan Indonesia sendiri ?
Masyarakat Indonesia yang terkena penyakit bawaan makanan merata dari semua lapisan. Anak sekolah keracunan jajanan di Tasikmalaya. Pekerja pabrik di Yogyakarta. Mahasiswa di Stikes Palembang. Kepala desa yang mengikuti pelatihan di Malang Jawa Timur. Keluarga Bupati di Pekanbaru, sampai Wakil walikota Menado. Semuanya terkena penyakit bawaan makanan.
Dalam kasus keracunan makanan (termasuk penyakit bawaan makanan) yang menyebabkan 117 siswa Sekolah Dasar Negeri 2 Cigantang keracunan massal pada awal Februari 2015, Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya, menyatakan bahwa sampel makanan yang dikirim positif mengandung Escherichia coli, Apatogen, Bacillus coagulans, Staphylococcus saprophyticus, dan Candida atau jamur. Bakteri Escherichia coli biasanya terdapat pada kotoran manusia.
Hal ini penting, bahwa 1 dari 200 orang meninggal karena keracunan makanan. Meskipun kasus meninggal akibat kejadian luar biasa keracunan fluktuatif, namun memiliki kecenderungan yang selalu meningkat. Angka kematian akibat keracunan makanan (termasuk penyakit bawaan makanan) tahun 2012 meningkat 176,27 persen dari tahun 2011. Sementara tahun 2014 lalu, mengalami peningkatan 131,33 persen dari tahun sebelumnya.
Apa saja gejalanya?
Gejala dari penyakit bawaan makanan ini tidak tentu, tergantung dari penyebabnya, bisa saja mengalami muntah, mual, sakit perut dan demam. Gejala lainnya mungkin sakit kepala, sakit kuning atau baal (mati rasa). Akan tetapi gejala klinis yang sering muncul adalah diare. Berkembangnya gejala ini bisa berjam-jam, berhari-hari atau lebih lama lagi dan biasanya berlangsung beberapa hari atau ada kalanya lebih lama.
Apa penyebabnya?
Sejumlah survei terhadap kejadian luar biasa (KLB) penyakit bawaan makanan yang berjangkit di seluruh dunia memperlihatkan bahwa sebagian besar kasus penyakit bawaan makanan terjadi akibat kesalahan penanganan pada saat penyiapan makanan tersebut baik di rumah, jasa katering, kantin rumah sakit, sekolah, perusahaan atau di pangkalan militer atau pada saat jamuan makan.
Bagaimana pengobatannya?
Banyak orang mendapat gejala ringan lalu cepat sembuh. Orang yang diare dan muntah sebaiknya tidak masuk kerja atau sekolah terlebih dahulu dan minum air putih yang banyak. Orang yang bisa kehabisan cairan tubuh misalnya anak kecil dan lansia patut ke dokter lebih dini. Biasanya tidak diperlukan antibiotik kecuali jika kondisinya tidak baik.
Tetapi sebelum itu terjadi, akan lebih baik jika kita mencegahnya bukan?
Ada 5 kunci yang akan membuat makanan menjadi lebih aman untuk kita konsumsi. Cek di artikel selanjutnya ya NutriCiers!
Salam Gizi, Sehat Berkualitas!
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
