Stunting Belum Usai, Dear Moms Yuk Perhatikan Hal Ini!
Halo NutriCiers!
Pernah mendengar kata “Stunting”? Sepertinya kita sudah tidak asing lagi mendengar kata itu, akan tetapi tidak semua memahami apa itu stunting. Sebagian orang mudah mengenal stunting dengan sebutan “kerdil”. Stunting merupakan salah satu masalah gizi kronik yang terjadi karena dipengaruhi oleh banyak faktor seperti sosial ekonomi, gizi ibu saat hamil, kesakitan pada bayi, dan kurangnya asupan gizi pada saat bayi. Balita yang mengalami stunting, perkembangan fisik dan kognitifnya akan terganggu untuk mencapai perkembangan yang optimal. Menurut data global WHO tahun 2019, 21,3% balita di dunia mengalami stunting. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2018, sebesar 30,8% balita mengalami stunting di Indonesia, dimana masih cukup jauh dari target penurunan angka stunting di tahun 2024 sebesar 14%.
Lalu, apa saja yang bisa dilakukan untuk keberlanjutan pencegahan stunting?
1. Perhatikan Kesehatan Ibu dan Balita
Pemantauan status gizi ibu dari sebelum, saat dan setelah kehamilan harus diperhatikan karena akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan bayi yang sudah dimulai semenjak di dalam rahim. Jika status gizi ibu sebelum hamil dan saat hamil berada dalam keadaan anemia atau KEK (Kurang Energi Kronis) akan berdampak pada perkembangan janin dan berisiko melahirkan bayi dengan BBLR (Berat Badan Lahir Rendah). Apabila tidak tumbuh kejar bayi dengan BBLR, kemungkinan besar akan mengalami stunting. Angka anemia ibu hamil di Indonesia masih cukup tinggi. Data anemia ibu hamil dan ibu hamil KEK di Indonesia masing-masing masih sebesar 48,9% dan 17,3% berdasarkan Riskesdas tahun 2018.
2. Berikan ASI Ekslusif bagi bayi usia 0 sampai 6 bulan
Sebuah penelitian menunjukkan jika pemberian ASI ekslusif mempengaruhi kejadian stunting. Anak yang mengalami stunting sebagian besar tidak mendapatkan ASI ekslusif. Manfaat memberikan ASI ekslusif kepada anak diantaranya dapat meningkatkan kecerdasan, perkembangan, dan kekebalan tubuh anak sehingga tercegah dari penyakit infeksi (infeksi gastrointestinal yang dapat menyebabkan kurangnya asupan gizi dan masalah gizi lainnya). Pemberian ASI boleh dilanjut sampai usia anak 24 bulan, akan tetapi sudah harus dengan tambahan pemberian MP-ASI.
3. Peningkatan kualitas pemberian MP-ASI (Makanan Pendamping ASI)
MP-ASI diberikan untuk anak mulai usia 6 bulan, karena konsumsi ASI saja tidak cukup memenuhi kebutuhan anak. MP-ASI yang diberikan terdiri dari beragam jenis makanan agar kebutuhan gizi tetap terpenuhi, terutama sumber protein hewani. Dengan pemberian MP-ASI yang menggunakan bahan makanan beragam, kebutuhan gizi anak akan terpenuhi, sehingga akan mengurangi risiko terjadi stunting.
Selain 3 hal diatas dalam mencegah stunting yaitu rutin melakukan pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak, imunisasi lengkap, dan selalu perhatikan kebersihan dan sanitasi lingkungan rumah atau sekitar. Semoga bermanfaat ya NutriCiers!
Salam Gizi, Sehat Berkualitas!
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
