Hari Air Sedunia : Dampak Krisis Air Bersih, Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Hai NutriCiers!
Hari Air Sedunia atau World Water Day dirayakan seluruh dunia setiap tanggal 22 Maret. Peringatan ini dimulai sejak tahun 1993 sebagai usaha untuk memusatkan perhatian pada krisis air global yang di alami dunia saat itu. Kini, masyarakat dan berbagai organisasi di belahan dunia memperingati Hari Air Sedunia sebagai momentum untuk mengambil tindakan dalam mengatasi krisis air.
Tahun ini, Hari Air Sedunia mengangkat tema “Valuing Water” yang mana akan berfokus pada berbagai masalah air di lingkup lingkungan, sosial, dan budaya. Valuing water kemudian dikaitkan dengan permasalahan kelangkaan air 'layak pakai', dimana kelangkaan air merupakan suatu kondisi ketidakseimbangan antara ketersediaan dan permintaan, degradasi kualitas air tanah dan air di permukaan, kompetisi, konflik regional dan internasional, serta semua yang memberikan kontribusi terhadap terjadinya kelangkaan air.
Pada dasarnya, air di muka bumi ini hanya 2,5% saja yang merupakan air bersih. Air jenis inilah yang seharusnya layak digunakan manusia untuk melakukan semua aktivitas (mandi, memasak, mencuci, dsb). Sayangnya, 2,5% air ini tidak tersedia begitu saja di permukaan bumi. Dari persentase tersebut, sekitar 68,7% nya masih berbentuk gletser dan es, 30,1% terletak di bawah tanah, dan sisanya 1,2% tersedia di permukaan. Air yang tersedia di permukaan tersebut, pun tidak bisa begitu saja dikonsumsi. Adapun sekitar 69% nya masih berbentuk es, 20,9% ada di danau, dan 0,49% ada di sungai. Biasanya, air di sungai inilah yang dikonsumsi oleh manusia.
Fenomena pencemaran sumber air akan berisiko pada akses sumber air bersih dan berdampak pada pengolahan air bersih yang akan digunakan manusia. Penyebab terjadinya pencemaran air terutama pada air sungai, antara lain limbah industri, limbah rumah tangga dan limbah pertanian. Selain itu, perubahan cuaca dan tata guna lahan turut mempengaruhi kualitas air sungai. Adapula paparan kontaminan seperti Uranium, Mangan, dan Nitrat yang ditemukan dalam air minum dapat mengakibatkan masalah kesehatan pada manusia, seperti :
- Uranium meningkatkan risiko kanker, serta menyebabkan kerusakan hati dan ginjal.
- Mangan dapat menyebabkan kerusakan neurologis pada anak-anak, IQ rendah, perubahan perilaku dan memori.
- Nitrat dapat menyebabkan kelainan jantung, sistem saraf, dan tulang belakang.
Lalu, apa yang bisa kita lakukan untuk mengurangi risiko krisis air bersih?
Sejalan dengan poin ke-6 dalam tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs), yaitu memastikan masyarakat mencapai akses universal dalam sektor air bersih dan sanitasi, dapat dilakukan dengan cara :
- Menghentikan kebiasaan praktik buang air besar di tempat terbuka.
- Mengurangi polusi, menghilangkan pembuangan, meningkatkan daur ulang yang aman.
- Meminimalkan pelepasan bahan kimia berbahaya.
- Meningkatkan efisiensi penggunaan air.
Salam Gizi, Sehat Berkualitas!
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
