Mitos Seputar Imunisasi pada Anak di Posyandu? Inilah Faktanya!
Hai, NutriCiers!
Selamat Hari Posyandu 2021! Pastinya sobat NutriCiers sudah tahu bukan, bahwa 1000 hari pertama kehidupan atau dikenal periode emas manusia merupakan periode yang sangat penting dalam pertumbuhan dan perkembangan anak?
Beberapa faktor yang penting diketahui agar dapat dipenuhi pada periode tersebut antara lain nutrisi yang baik dan cukup, status kesehatan yang baik, pengasuhan yang benar, dan stimulasi yang tepat untuk membantu anak untuk tumbuh sehat serta membantu mencapai kemampuan optimalnya. Maka dari itu, seorang ibu punya tanggung jawab dalam memenuhi faktor-faktor tersebut demi pertumbuhan dan perkembangan si kecil.
Posyandu sudah dikenal sejak lama sebagai pusat pelayanan kesehatan dasar bagi ibu dan balita. Posyandu merupakan salah satu bentuk upaya kesehatan berbasis masyarakat dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan dengan tujuan mempercepat penurunan angka kematian ibu dan bayi. Oleh karena itu, Posyandu merupakan wadah komunikasi yang tepat dalam pelayanan kesehatan masyarakat. Berbagai macam kegiatan rutin yang dilaksanakan Posyandu mulai dari penimbangan anak, edukasi PMT (Pemberian Makanan Tambahan), pemeriksaan dan konsultasi kesehatan, hingga imunisasi. Namun, banyaknya mitos-mitos yang beredar dan dipercayai masyarakat mengenai imunisasi. Padahal, pemberian imunisasi merupakan salah satu upaya dalam memberantas penyakit dengan meningkatkan kekebalan tubuh.
Yuk, simak penjelasan berikut tentang mitos dan fakta dalam pemberian imunisasi!
Vaksin mengandung babi
Hanya sebagian kecil dari vaksin yang bersinggungan dengan tripsin pankreas babi untuk proses menumbuhkan bibit beberapa vaksin. Pada vaksin meningitis, setelah bersinggungan dengan tripsin, induk bibit vaksin tersebut dicuci dan dibersihkan total, sehingga tidak mengandung tripsin babi. Selain itu, Fatwa MUI No.4 2016 menjelaskan bahwa imunisasi pada dasarnya dibolehkan sebagai bentuk ikhtiar untuk mewujudkan imunitas dan mencegah terjadinya penyakit tertentu.
ASI dan obat herba sebagai alternatif pengganti vaksin
Kolostrum yang terkandung dalam ASI memang mengandung antibodi, namun bukan berarti menjadi antigen yang dapat menstimulasi produksi antibodi. Jadi tetap harus dibantu dengan vaksin penyakit tertentu. Sedangkan konsumsi sari kurma, madu, dan pisang tidak dapat menggantikan peran imunisasi karena tidak mengandung antigen seperti vaksin, sehingga tidak bisa merangsang kekebalan untuk menghadapi penyakit.
Setelah diimunisasi anak menjadi sakit, panas, terkena campak, lumpuh, cacat mental, autis, bahkan meninggal
Kepercayaan tersebut dapat terjadi karena memiliki pengalaman buruk dalam imunisasi. Kemungkinan terjadinya penyakit campak padahal sudah diimunisasi adalah kurangnya kekebalan pada anak, terjadinya kegagalan pembentukan antibodi pada vaksin campak primer atau rendahnya antibodi setelah vaksin campak sekunder setelah beberapa tahun.
Itulah beberapa mitos yang ebredar mengenai imunisasi. NutriCiers, yuk jadi ibu cerdas dengan tidak mudah percaya denga mitos yang tidak terbukti!
Salam Gizi, Sehat Berkualitas!
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
