Bolehkah Konsumsi Jamu Selama Menyusui?
Hai NutriCiers!
Masyarakat Indonesia dikenal erat dengan kebiasaan mengonsumsi herbal yaitu Jamu. Semakin eratnya kebiasaan konsumsi jamu ini sampai dibuatlah lagu “Suwe Ora Jamu”.
Jamu juga tidak terlepas dari konsumsi ibu menyusui. Banyak ibu menyusui yang mengonsumsi jamu karena tradisi turun temurun yang bertujuan untuk memperlancar air susu ibu (ASI).
Jamu yang biasa dikonsumsi dikenal dengan nama “Jamu Uyup-Uyup” atau “Jamu Gepyokan”.
Apakah NutriCiers termasuk penikmat jamu ketika menyusui? Lalu, apakah boleh dikonsumsi jika ditinjau dari segi kesehatan?
Jawabannya boleh, tentu dengan kadar yang tidak berlebihan ya.
ASI merupakan hal utama yang harus diberikan kepada bayi secara eksklusif (0-6 bulan). Banyak ibu yang khawatir produksi ASI tidak dapat mencukupi kebutuhan bayi. Oleh karenanya, banyak usaha yang dilakukan salah satunya mengonsumsi jamu disamping ibu menyusui mengonsumsi makanan bergizi seimbang.
Sebenarnya, penyelenggaraan pengobatan komplementer secara umum telah diatur dalam Keputusan Menteri Kesehatan No.1109/Menkes/Per/IX/2007 termasuk di dalamnya perihal jamu. Jamu uyup-uyup jika dilihat dari komposisinya, yaitu kencur, kunyit, lempuyang, temu giring, temulawak dan daun katuk memiliki manfaat yang cukup baik bagi tubuh ibu.
Kencur dan temu giring bermanfaat untuk menimbulkan rasa tenang, hangat dan segar dalam tubuh. Kunyit mengandung curcumin dan minyak atsiri yang dapat meningkatkan produksi ASI.
Lempuyang memberikan manfaat peningkatan nafsu makan, dengan mengonsumsi ini sangat membantu ibu nifas untuk menjaga asupan makannya. Daun katuk mengandung steroid dan polifenol yang bisa membantu untuk meningkatkan kadar prolaktin yang berperan dalam meningkatkan produksi ASI.
Sementara itu, temulawak dan daun katuk memiliki senyawa laktagogum yang mampu merangsang prolaktin untuk memproduksi ASI. Hal ini sudah dibuktikan dalam beberapa penelitian bahwa dengan mengonsumsi jamu terutama mengandung temulawak dapat meningkatkan produksi ASI.
Telah disebutkan bahwa produksi ASI dapat meningkat dari mengkonsumsi pangan yang mengandung laktagogum. Apa itu laktagogum? Mari mengenal laktagogum.
Laktagogum adalah zat dalam pangan seperti temulawak, daun katuk, pepaya dan daun pepaya yang apabila dikonsumsi akan menstimulasi hormon prolaktin. Ada 2 hormon yang mempengaruhi ASI, yaitu prolaktin dan oksitosin.
Hormon prolaktin mempengaruhi produksi ASI (berhubungan dengan zat gizi yang dikonsumsi), sementara oksitosin mempengaruhi pengeluaran ASI (berhubungan dengan rangsangan).
ASI akan banyak diproduksi ketika kebutuhan gizi ibu menyusui terpenuhi dan didukung adanya zat laktagogum dan vitamin A. Sementara itu, proses pengeluaran ASI diperlancar dengan frekuensi bayi mengisap puting susu atau frekuensi ASI dikeluarkan (pumping).
Kini NutriCiers sudah tahu ya mengapa jamu “uyup-uyup” diperbolehkan untuk dikonsumsi karena berbagai manfaatnya. Namun, tidak hanya sampai pada konsumsi jamu, NutriCiers tetap melakukan pola hidup sehat dengan konsumsi makanan bergizi seimbang untuk memenuhi kebutuhan selama menyusui, serta hal yang tidak kalah penting untuk diperhatikan yaitu kunci keberhasilan menyusui pertama kali adalah perlekatan dan posisi menyusui yang benar pada awal menyusui sehingga ASI yang diproduksi dapat bermanfaat bagi bayi.
Oleh karena itu, perhatikan juga cara menyusui yang benar sehingga pemberian ASI dapat maksimal ya NutriCiers!
Salam Gizi, Sehat Berkualitas!
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
