Lewati ke konten
NutriClinic
Sports and Beauty

Mengenal Penyakit Lupus Kutaneus

Ditulis oleh Muthia Syifa Rahmadina2 menit baca
Mengenal Penyakit Lupus Kutaneus
Lupus kutaneus atau Cutaneus Lupus Erythematosus (CLE) merupakan penyakit autoimun yang memberikan efek samping pada kulit berupa ruam-ruam di area sekitar pipi yang membentuk pola seperti kupu-kupu.
Sumber gambar: Wikimedia Commons

Halo, NutriCiers!

Lupus merupakan salah satu penyakit autoimun yang menyebabkan peradangan. Hal ini bisa berimbas pada berbagai organ (sistemik) yang kemudian disebut sebagai Systemic Lupus Erythematosus (SLE) atau lupus sistemik. Selain itu, dapat pula berdampak pada kulit yang disebut sebagai Cutaneous Lupus Erythematosus (CLE) atau lupus kutaneus.

Ngomong-ngomong, apa sih sebetulnya penyakit autoimun itu?

Jadi, seperti yang NutriCiers ketahui, tubuh kita memiliki sistem imunitas (immune system). Sistem imun normalnya bertugas untuk melawan apabila ada benda asing yang masuk dan menyerang sistem pertahan tubuh kita, seperti virus, bakteri, dan pathogen lainnya. Nah, pada kasus autoimun, sistem imunitas ini mengira bahwa tubuh kita sendiri lah benda asing itu yang akhirnya justru menyerang organ dan jaringan tubuh. Apa aja yang diserang? Bisa kulit, sendi, sel darah, paru-paru, jantung, dan sebagainya.

Back to the topic, kita bahas sedikit tentang lupus kutaneus atau CLE yuk, NutriCiers. Lupus kutaneus memiliki macam-macam penyebab, seperti faktor genetik, lingkungan, etnis, hormon, dan konsumsi obat-obatan. Penderita lupus pada umumnya mengalami gejala seperti sakit kepala, lelah, demam, nyeri sendi, sariawan, anemia, nyeri di dada, dan rambut rontok. Pada penderita lupus kutaneus, gejala khas yang menonjol adalah ruam-ruam yang muncul pada kulit di pipi. Ruam ini membentuk pola seperti kupu-kupu sehingga dikenal dengan istilah butterfly rash.

Lalu, bagaimana sih yang seharusnya dilakukan penderita lupus kutaneus atau CLE tersebut agar gejala-gejala yang dirasakan tidak semakin parah? Ada beberapa tips yang bisa dilakukan sehari-hari nih, NutriCiers. Yuk kita simak!

  1. Penderita CLE bisa menggunakan tabir surya sebagai perlindungan dari UVA dan UVB sehingga dapat mencegah perkembangan lesi atau luka yang timbul. Oleskan tabir surya ke permukaan kulit 20-30 menit sebelum keluar rumah atau terpapar sinar matahari ya, NutriCiers. Bisa pula lindungi kulit dengan mengenakan pakaian yang tepat dan juga memakai topi.
  2. Hindari merokok karena rokok berhubungan positif dengan kejadian CLE dan mengurangi efektivitas dari pengobatan penyakit lupus itu sendiri. Jadi, yuk mulai berhenti merokok! 
  3. Obat-obatan yang merangsang terjadinya CLE juga sebaiknya tidak dikonsumsi. Jenis obat ini ada banyak dan sebaiknya dikonsultasikan pada yang ahli ya, NutriCiers.
  4. Untuk menghindari masalah psikologis karena dampak dari penyakit ini, disarankan pula untuk menutupi kepala yang telah mengalami kerontokan rambut dengan topi, kerudung, dan sejenisnya.  Atau dapat juga menggunakan produk kosmetik untuk menutupi jaringan parut yang timbul. Namun, hal ini perlu ditanyakan pada ahli untuk penggunaan yang paling aman.

Salam Gizi, Sehat Berkualitas!

Tag:#autoimun#butterfly rash#hari lupus sedunia#imun#kesehatan#kesehatan kulit#kulit#lesi#lupus#masalah kulit#psikologi#ruam#Sinar Matahari

Bermanfaat? Bagikan artikel ini.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Ingin berkomentar? Berikan komentar Anda untuk artikel ini

Email Anda tidak akan ditampilkan.

Baca juga

Artikel lainnya

Kenali Post Dengue Fatigue Syndrome

PDFS adalah kondisi kelemahan otot yang muncul setelah infeksi virus dengue Sumber gambar : https://www.freepik.com/free-photo/sick-young-woman-lying-bed-with-closed-eyes-coughing_4167128.htm#page=1&q

Silvia Bufa Amanda

Lupus: Penyakit yang Lebih Sering Menyerang Wanita

Pengaruh hormonal dan kromosom X menyebabkan prevalensi wanita yang menderita lupus lebih tinggi. Sumber foto: freepik Halo NutriCiers! Tanggal 10 Mei diperingati sebagai Hari Lupus Sedunia. Untuk mem

Silvia Bufa Amanda

Demam Berdarah Dengue (DBD) dan Covid-19

Tingginya prevalensi Demam Berdarah Dengue (DBD) dikaitkan dengan pandemi Covid-19, dimana seseorang yang positif Covid-19 dapat berisiko terjangkit DBD. Sumber gambar: https://www.freepik.com/free-ve

Muthia Syifa Rahmadina