Lewati ke konten
NutriClinic
Medical Nutrition

Seberapa Bahaya Stunting?

Ditulis oleh Muthia Syifa Rahmadina2 menit baca
Seberapa Bahaya Stunting?
Stunting merupakan penyakit gizi kronis yang berdampak buruk dalam jangka panjang.
Sumber gambar: https://www.freepik.com/free-vector/hand-drawn-children-back-school_8925988.htm#page=1&query=child&position=4

Hai, NutriCiers!

Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak. Anak yang menderita stunting memiliki tinggi badan yang lebih pendek dari anak seusianya. Stunting ini banyak penyebabnya, seperti pengetahuan orang tua, ekonomi keluarga rendah, ketersediaan pangan, dan akses pada fasilitas kesehatan rendah, serta praktik pemberian makan (ASI dan MP ASI) pada anak yang salah. Penyebab langsungnya adalah kurangnya asupan dan juga penyakit infeksi pada anak. Kurangnya asupan dimulai sejak anak masih dikandung hingga berusia 2 tahun. Kejadian stunting merupakan kondisi yang tidak bisa diperbaiki dan bisa berdampak buruk pada kesehatan.

Anak yang stunting mengalami penurunan fungsi kognitif. Hal ini dikarenakan 2 tahun pertama adalah waktu yang sangat penting untuk perkembangan otak. Perkembangan keterampilan bahasa terjadi dari usia 18—24 bulan. Kosa kata anak bisa bertambah hingga 100 atau lebih pada usia 2 tahun. Penurunan fungsi kognitif bisa ditandakan dengan penurunan daya ingat, ketidaktepatan dalam menyimpan benda, dan keterlambatan berpikir. Menurut sebuah penelitian, anak yang stunting juga menunjukkan skor yang lebih rendah pada tes kognitif yang menilai memori jangka pendek dan kemampuan spasial visual. Penurunan fungsi kognitif bisa membuat anak tidak produktif saat dewasa nanti, bisa pula menjadi pengangguran yang akhirnya merugikan dirinya dan menambah beban negara.

Kurangnya asupan energi, protein, serta vitamin dan mineral pada anak stunting meningkatkan risiko terkena infeksi, seperti pneumonia, diare, tuberkulosis, dan hepatitis. Sebaliknya, ketika ia sudah terinfeksi, maka bisa menyebabkan nafsu makan menurun, terjadi gangguan absorbsi zat gizi oleh usus, meningkatkan reaksi katabolisme, dan juga membuat zat gizi yang terkandung di dalam tubuh bukan digunakan untuk menunjang pertumbuhan, tetapi digunakan untuk melawan penyakit infeksi melalui mekanisme respons imun. Berat badan anak akan terus menurun dan ini berbahaya untuk kesehatan.

Anak yang stunting berisiko tinggi untuk menderita penyakit degeneratif, seperti obesitas, dan diabetes melitus dikemudian hari. Risiko untuk terkena hipertensi, stroke, dan penyakit jantung koroner juga meningkat. Namun, stunting lebih berbahaya dari itu. Stunting bisa menyebabkan kematian. Anak yang stunting empat kali lebih berisiko untuk meninggal.

Stunting tidak terjadi dalam waktu yang singkat, tetapi dimulai dari saat anak masih di dalam kandungan sehingga asupan ibu sangat berpengaruh terhadap stunting. Hal ini sama pentingnya dengan menjaga kebersihan untuk mencegah penyakit infeksi. Jadi, untuk mencegah terjadinya stunting pada anak, maka ibu harus menjaga kesehatan, mengonsumsi asupan yang sesuai kebutuhan, dan juga selalu menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat. Hal penting lainnya adalan pemberian ASI eksklusif dan MPASI yang bersih, aman, dan sesuai usia anak.

Salam Gizi, Sehat Berkualitas!

Tag:#anak#ASI#ASI Eksklusif#gizi#gizi buruk#konsumsi ibu hamil#Pendek#Penyakit degeneratif#stunting

Bermanfaat? Bagikan artikel ini.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Ingin berkomentar? Berikan komentar Anda untuk artikel ini

Email Anda tidak akan ditampilkan.

Baca juga

Artikel lainnya

DBD dan juga Gejalanya : Mematikan Kah?

Mengenali gejala-gejalanya merupakan hal penting dalam penanganan penyakit demam berdarah Sumber gambar : https://www.freepik.com/free-photo/mosquito_4108060.htm#page=1&query=dengue&position=0 Halo Nu

Annisaa Fairuz Tyara