Stunting dan Dampaknya terhadap Masa Depan Anak
Halo NutriCiers!
Sobat NutriCiers pasti sudah tahu apa itu stunting. Yup, anak stunting adalah anak dengan TB/U kurang dari minus dua standar deviasi (-2SD) dari kurva pertumbuhan yang ditentukan WHO. Singkatnya stunting adalah kondisi dimana tinggi badan anak lebih pendek dibandingkan anak dengan usia yang sama. Prevalensi stunting di Indonesia terus meningkat, pada tahun 2016 terdapat 27,5% anak mengalami stunting dan meningkat menjadi 29,6% pada tahun 2017.
Banyak faktor yang menyebabkan stunting. Faktor lingkungan berperan sebesar 90% sedangkan faktor genetik berperan 10%. Faktor lingkungan akan mempengaruhi pengetahuan orang tua untuk memberikan asupan zat gizi selama masa-masa awal kehidupan anak untuk pertumbuhan dan perkembangan anaknya. Padahal kita tahu bahwa dari bayi hingga usia delapan tahun merupakan masa-masa penting untuk pertumbuhan fisik dan perkembangan mental anak.
Stunting merupakan indikator bahwa anak mengalami gangguan gizi kronis yang terakumulasi sejak periode pre natal hingga post natal. Sebagai kondisi gangguan pertumbuhan, anak dengan stunting akan mengalami gangguan pada kecerdasan, psikomotor, motorik halus, dan integrasi neurosensorik. Gangguan-gangguan tersebut akan menyebabkan penurunan performa di sekolah dan penurunan kemampuan belajar yang mengakibatkan penurunan prestasi belajar anak di sekolah.
Banyak penelitian yang melihat hubungan stunting terhadap prestasi belajar siswa. Hasilnya menunjukkan bahwa anak yang mengalami stunting memiliki prestasi yang lebih rendah dibandingkan dengan anak yang sehat. Hal ini disebabkan karena kekurangan gizi kronis pada stunting dapat menyebabkan penurunan jumlah sel otak dan menyebabkan ketidaksempurnaan biokimia dalam otak yang mempengaruhi kecerdasan anak. Anak dengan kecerdasan yang tidak maksimal kedepannya dapat menghambat pertumbuhan ekonomi yang berdampak pada meningkatkan angka kemiskinan dan memperbesar kesenjangan ekonomi di suatu negara.
Selain mempengaruhi kecerdasan, anak stunting berisiko mengalami seperti obesitas, diabetes mellitus, dan penyakit degeneratif lainnya. Anak perempuan yang mengalami stunting ketika dewasa cenderung akan melahirkan anak yang stunting juga sehingga lingkaran ini tidak pernah berhenti dan akan selalu berputar.
Nah, itu tadi sedikit informasi mengenai pengaruh stunting terhadap prestasi belajar anak sekolah. Yuk, ikut berperan dalam mengurangi angka kejadian stunting untuk mencetak generasi bangsa yang berkualitas!
Salam Gizi, Sehat Berkualitas!
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
