Lewati ke konten
NutriClinic
Food and Beverage

Hepatitis B: Pecinta Kacang Perlu Waspada?

Ditulis oleh Mohammad Brachim Ansari2 menit baca
Hepatitis B: Pecinta Kacang Perlu Waspada?

Pengolahan dan penyimpanan yang tidak tepat dapat meningkatkan tingkat aflatoksin

Sumber gambar: https://www.freepik.com/free-photo/salted-roasted-peanuts_10271092.htm#query=peanut&position=6

Hai NutriCiers!

Apakah Anda pernah sakit hati? Eits, tunggu dulu yang dimaksud disini adalah sakit hati atau liver dalam medis ya. Sakit hati dalam medis ada beberapa istilah sesuai dengan kondisi masing-masing dan penyebabnya. Salah satunya adalah Hepatitis B.

Apa itu Hepatitis? Hepatitis adalah peradangan hati yang bisa berkembang menjadi fibrosis (jaringan parut), sirosis atau kanker hati jika pada kondisi parah. Hepatitis dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti infeksi virus (A, B, C, D, dan E sesuai nama hepatitisnya), zat beracun (misalnya alkohol, obat-obatan tertentu), dan penyakit autoimun. Hepatitis B adalah jenis hepatitis yang banyak menginfeksi penduduk Indonesia sebesar 21,8% pada tahun 2017. Apalagi hepatitis B ini dapat menular dari ibu hamil dan dapat ditularkan pada bayi yang dilahirkannya. Oleh karena itu, kita perlu waspada dan lebih berhati-hati lagi kedepannya. Menjaga kesehatan diri dan keluarga kita sangat penting dilakukan untuk mencegah penularan dari Hepatitis B ini.

Apakah Anda termasuk salah satu pecinta kacang-kacangan? Namun, tahukah Anda bahwa kacang-kacangan perlu diwaspadai bagi penderita hepatitis B. Mengapa?

Orang dengan hepatitis B yang mengonsumsi makanan dengan kandungan tinggi aflatoksin meningkatkan risiko terjadinya kanker hati 60 kali lipat. Makanan dengan kandungan tinggi aflatoksin dapat ditemukan pada kacang-kacangan dan biji-bijian, jagung, susu, keju, gandum, daging, kedelai, rempah-rempah kering, dan biji kapas. Sebagian besar kita pasti bertanya-tanya, makanan-makanan itu bukannya bergizi? Apakah harus dihindari?

Kata yang lebih tepat daripada menghindari adalah mewaspadai dan membatasi konsumsi makanan-makanan tersebut. Dilansir dari USDA dan BPOM RI, batas tingkat aflatoksin maksimum yang dapat dikonsumsi untuk produk olahan jagung dan kacang tanah adalah 20 ppb dan untuk produk olahan susu adalah 0,5 ppb. Hal ini dilakukan untuk membatasi aflatoksin yang dapat masuk ke tubuh agar aman.

Lalu, bagaimana cara sederhana dalam membatasi jumlah aflatoksin dalam makanan kita?

1. Membeli kacang-kacangan bermerek dan memiliki izin edar BPOM.

2. Membuang kacang atau biji-bijian yang terlihat berjamur, berubah warna, atau layu.

3. Memasak makanan untuk mengurangi kadar aflatoksin.

4. Merendam biji-bijian dan kacang-kacangan dapat mengurangi tingkat aflatoksin.

5. Konsumsi biji-bijian dan kacang-kacangan sesegera mungkin, sebaiknya dalam satu hingga dua bulan setelah pembelian.

6. Menyimpan biji-bijian, jagung dan kacang-kacangan di tempat sejuk dan kering atau bekukan untuk memperpanjang kesegaran.

Nah, itulah langkah-langkah yang dapat kita lakukan baik bagi penderita hepatitis B maupun orang sehat untuk dapat mencegah terjadinya kanker hati. Apa yang Anda makan sekarang akan menentukan hidup Anda dimasa depan.

Salam Gizi, Sehat Berkualitas! 

Tag:#hati#kacang-kacangan#keamanan#pangan#virus

Bermanfaat? Bagikan artikel ini.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Ingin berkomentar? Berikan komentar Anda untuk artikel ini

Email Anda tidak akan ditampilkan.

Baca juga

Artikel lainnya

Pentingnya Bantuan Gizi dalam Situasi Bencana

Baru-baru ini kita melihat berita adanya bencana alam di beberapa titik di wilayah Indonesia seperti gempa bumi, banjir, tanah longsor, dan erupsi gunung berapi, hal ini tidak hanya m

Fathurrahmi Ichwan Alduaira