Alasan Mengapa Penderita Thalasemia Harus Membatasi Asupan Zat Besi dan Vitamin C
Halo, NutriCiers!
Thalasemia merupakan penyakit kelainan darah yang disebabkan protein berjenis hemoglobin yang dihasilkan oleh tubuh jumlahnya tidak mencukupi. Jumlah hemoglobin yang tidak mencukupi mengakibatkan sel darah merah di dalam tubuh memiliki umur yang singkat sehingga tidak dapat berfungsi dengan baik. Penyakit ini diturunkan dari orang tua kepada anak melalui gen sehingga tidak dapat disembuhkan. Namun, perawatan dan penanganan yang tepat dapat meningkatkan kualitas hidup penderita.
Berdasarkan klinis, thalasemia dikelompokkan menjadi tiga jenis yaitu thalasemia mayor, intermedia dan minor. Thalasemia mayor membutuhkan transfusi darah seumur hidup, berbeda dengan minor yang tetap membutuhkan transfusi darah namun tidak harus rutin. Sedangkan minor merupakan jenis thalasemia yang bersifat sebagai pembawa, sehingga secara klinis tidak menunjukkan gejala anemia dan tidak membutuhkan transfusi darah.
Ketika berbicara tentang anemia tidak akan jauh dari dua jenis asupan yang bermanfaat untuk mencegahnya, yaitu zat besi dan vitamin C. Namun, berbeda kasusnya dengan penderita thalasemia yang ternyata dianjurkan untuk membatasi kedua zat tersebut. Mengapa? Berikut alasannya!
Alasan pertama
Asupan zat besi yang berlebih dapat mengakibatkan penimbunan besi dalam tubuh yang apabila dibiarkan tentunya akan membahayakan penderita. Untuk menghindari penumpukan zat besi dalam tubuh, biasanya dokter memberikan terapi berupa obat yang dapat membantu mengurangi penimbunan zat besi. Selain itu, pencegahan penumpukan zat besi juga dapat dilakukan dengan membatasi asupan makanan yang tinggi zat besi. Makanan dengan kandungan zat besi yang tinggi antara lain hati ayam, makanan laut dan sayuran hijau.
Lalu, berapa jumlah asupan zat besi yang dianjurkan?
Anjuran zat besi di bawah 10 mg/hari untuk anak-anak di bawah 10 tahun, dan di bawah 18 mg/ hari bagi yang berusia 11 tahun ke atas.
Alasan Kedua
Vitamin C dapat membantu penyerapan zat besi, khususnya zat besi jenis nonheme yang banyak terkandung dalam sayuran hijau. Selain dari suplemen, vitamin C juga banyak terkandung di dalam buah dan sayur. Hal ini bukan berarti penderita thalasemia tidak diperbolehkan mengkonsumsi sayur dan buah ya, NutriCiers. Serat dan antioksidan yang terkandung dalam sayur dan buah dapat menangkal risiko peningkatan radikal bebas pada penderita. Oleh karena itu, ketika mengonsumsi sayuran hijau, tidak dianjurkan untuk dikonsumsi bersamaan dengan vitamin C, melainkan dianjurkan untuk mengkonsumsi teh supaya asupan vitamin C tidak berlebihan. Teh yang mengandung tannin dapat menghambat penyerapan zat besi.
Salam Gizi, Sehat Berkualitas!
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
